Prosesi Maambiak Tanah di Pauh Pariaman Resmi Buka Rangkaian Pesona Hoyak Tabuik 2026

Penulis: Muzakir Salim  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 11:52:31 WIB
Kelompok Tabuik Subarang menjalankan prosesi Maambiak Tanah sebagai pembuka Pesona Hoyak Tabuik 2026 di Pauh Pariaman.

PARIAMAN — Rangkaian Pesona Hoyak Tabuik Budaya Pariaman 2026 resmi dimulai dengan prosesi Maambiak Tanah yang digelar di kawasan Pauh, Selasa (16/6/2026). Kelompok Tabuik Subarang menjadi pihak yang menjalankan ritual pengambilan tanah tersebut, menandai awal dari serangkaian acara budaya tahunan di kota itu.

Apa Makna Prosesi Maambiak Tanah?

Maambiak Tanah merupakan ritual pertama yang wajib dilakukan sebelum rangkaian Hoyak Tabuik dimulai. Tanah yang diambil dari Pauh kemudian akan digunakan dalam proses pembuatan Tabuik, replika kuda bersayap yang menjadi ikon utama festival ini.

Prosesi ini digelar bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah, mengikat tradisi lokal dengan kalender keagamaan. Setelah tanah diambil, kelompok Tabuik Subarang membawanya untuk disimpan dan diolah dalam tahapan ritual selanjutnya.

Pesona Hoyak Tabuik Masuk Kharisma Event Nusantara

Pesona Hoyak Tabuik Budaya Pariaman 2026 tercatat sebagai salah satu agenda dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) yang digagas Kementerian Pariwisata. Status ini menjadikan festival tahunan tersebut sebagai destinasi wisata budaya nasional yang dipromosikan secara resmi oleh pemerintah pusat.

Rangkaian acara Hoyak Tabuik biasanya berlangsung selama beberapa hari dan puncaknya adalah arak-arakan Tabuik ke pantai. Ribuan warga dan wisatawan dari berbagai daerah diperkirakan akan hadir menyaksikan prosesi adat yang sudah berlangsung turun-temurun ini.

Tradisi yang Mengakar di Masyarakat Pariaman

Tabuik merupakan tradisi masyarakat Pariaman yang memperingati peristiwa Asyura, dengan pengaruh budaya Islam dan lokal yang kuat. Setiap tahunnya, dua kelompok—Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa—bersaing secara sehat dalam membuat dan mengarak Tabuik.

Prosesi Maambiak Tanah yang baru saja digelar menjadi bukti bahwa tradisi ini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah Kota Pariaman terus mendukung pelestarian budaya ini sebagai aset wisata dan identitas daerah.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top