PARIAMAN — Dua bangunan menyerupai menara itu berasal dari kelompok Pasa dan Subarang. Warga lokal maupun pendatang dari luar kota tak melewatkan kesempatan berfoto di depan Tabuik yang menjulang.
"Tabuik ini kan hanya satu kali setahun, jadi saya bersama adik dan keponakan berfoto bersama," kata Rodi Gustiawan Rosadi, warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam, di Pariaman, Minggu.
Rodi mengaku sengaja memanfaatkan libur akhir pekan untuk mengikuti rangkaian kegiatan budaya tersebut. Menurutnya, Tabuik bukan hanya tradisi yang dipertahankan warga Pariaman, tetapi juga menjadi daya tarik wisata unggulan.
"Jadi tidak saja Kota Pariaman saja yang ramai tapi juga Kabupaten Padang Pariaman," ujarnya merujuk pada daerah tetangga yang ikut terdampak lonjakan pengunjung.
Imran Azis, salah seorang wisatawan, mengatakan hampir setiap tahun ia menyaksikan langsung puncak perayaan ini. "Kegiatannya bagus, banyak wisatawan hadir," katanya.
Sebelum menjadi latar foto, pada pagi hari digelar prosesi Tabuik Naiak Pangkek atau Tabuik Naik Pangkat. Ini adalah prosesi pemasangan bagian atas bangunan yang didominasi material kayu.
Memasuki siang menjelang sore, bangunan tersebut diarak oleh puluhan pemuda—disebut Anak Tabuik—dari Simpang Tabuik dan kawasan Pasar Rakyat Pariaman menuju Pantai Gandoriah.
Pemerintah Kota Pariaman mengalokasikan anggaran sekitar Rp700 juta untuk mendukung pelaksanaan Festival Budaya Tabuik Piaman 2026 yang berlangsung pada 16 hingga 28 Juni mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi Syarief merinci, dari total tersebut, Rp450 juta dialokasikan untuk kedua Tabuik. Masing-masing kelompok, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, mendapat Rp225 juta.
Anggaran per kelompok naik Rp25 juta dari tahun sebelumnya yang hanya Rp200 juta. Kenaikan ini didasari pertimbangan kebutuhan teknis pembuatan Tabuik dan prosesi yang berlangsung.