SUMATERA BARAT — Activision mengungkap nilai pasar cheat di industri game mencapai USD 8,5 miliar atau sekitar Rp 151 triliun per tahun, berdasarkan analisis platform Intorqa pada Februari 2026. Angka itu mencakup 15 judul game berbeda, termasuk layanan penjualan akun, boosting, hingga spoofing yang menyertainya. Pengungkapan ini muncul di tengah operasi pemberantasan kecurangan yang dijalankan tim anti-cheat #TeamRICOCHET di Call of Duty.
Tim anti-cheat Activision, #TeamRICOCHET, memaparkan struktur pasar gelap cheat yang menurut mereka beroperasi seperti industri tersendiri. Perusahaan menyebut para penjual cheat membangun jaringan berlapis yang melibatkan pengecer, layanan berlangganan, modifikasi tampilan, akun ilegal, alat pemalsuan, hingga jaringan distribusi terorganisir.
Analisis Intorqa pada Februari 2026 memperkirakan gamer yang berlangganan cheat di 15 game berbeda menghasilkan nilai pasar sekitar USD 3,5 miliar per tahun. Jika industri terkait seperti penjualan akun, boosting, dan spoofing dimasukkan, nilainya membengkak menjadi USD 8,5 miliar atau setara Rp 151 triliun.
Activision menyebut pengembang cheat menempati posisi teratas dalam rantai pasok pasar gelap ini. Mereka sengaja menjaga jarak dari proses penjualan langsung, pemasaran, dan saluran distribusi yang berpotensi mengungkap identitas mereka.
"Para pengembang cheat berada di puncak piramida pasar gelap," kata Activision dalam pernyataan resminya.
Di bawah lapisan pengembang, terdapat jaringan pengecer yang memasarkan produk serupa melalui toko online, komunitas, dan saluran distribusi yang saling tumpang tindih. Pola ini membuat pengembang tetap untung dari jangkauan distribusi yang luas, sementara pengecer menanggung risiko eksposur langsung ke pelanggan.
Untuk menciptakan kesan pilihan yang beragam, banyak penjual menampilkan cheat seolah-olah sebagai produk berbeda. Kenyataannya, sebagian besar barang yang dijual adalah produk yang sama dengan logo, nama, atau nama toko yang diganti.
Struktur berlapis ini juga membuat pelacakan menjadi rumit. #TeamRICOCHET mengaku telah melacak ratusan vendor yang tersebar di berbagai kanal distribusi tersebut.
Activision mencatat sebagian pemain rela menghabiskan hingga USD 1.000 per tahun demi mempertahankan akses ke cheat, alat penghindaran, dan akun pengganti. Angka itu diperkirakan terus naik seiring ketatnya penindakan yang dilakukan pengembang game.
"Selama satu tahun, beberapa pemain menghabiskan ratusan dolar—bahkan ribuan—untuk mencoba mempertahankan akses ke cheat, alat penghindaran, dan akun pengganti," ujar Activision.
Perusahaan menggabungkan deteksi teknis dengan tindakan hukum berkelanjutan untuk mengganggu ekosistem kecurangan di setiap tingkatan. Sejauh ini, Activision mengklaim telah mengganggu lebih dari 375 operasi reseller, mengeluarkan lebih dari 80 permintaan penghentian dan penarikan, serta membantu menutup 31 vendor cheat utama.
Menurut Activision, RICOCHET Anti-Cheat terus membuat aktivitas kecurangan menjadi lebih sulit, lebih berisiko, dan lebih mahal untuk dipertahankan. Strategi ini menyasar sisi ekonomi pasar cheat, bukan hanya akun pemain yang kedapatan curang.
Bagi pengguna game di Indonesia, temuan ini memberi gambaran soal skala ekonomi di balik kecurangan yang sering ditemui di server publik. Pemberantasan cheat kini tidak cukup lewat banned akun, tetapi juga menuntut pemutusan rantai distribusi yang menopang bisnis tersebut.