SUMATERA BARAT — Pertamina EP Jatibarang Field Zona 7 mendongkrak hasil panen petani di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, dari 6,5 ton menjadi 8,5-11 ton per hektare melalui program Jari Tangan. Program yang berjalan sejak 2025 ini menyasar wilayah yang 90 persen warganya menggantungkan hidup dari lahan pertanian. Pendampingan berkelanjutan itu kini memasuki masa panen kedua dan memangkas biaya produksi petani.
Paragraf pembuka: Program Jari Tangan (Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan) menyasar Kelompok Tani Gunda Rejeki yang diketuai Suradi. Fokusnya pemulihan kesuburan tanah lewat bimbingan teknis sistem bertani berkelanjutan di Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Pertamina EP Zona 7 Jatibarang menyebut wilayah operasinya memang bertumpang tindih dengan lahan pertanian warga.
Petani di Desa Jatisura kini memanen gabah kering panen (GKP) di kisaran 8,5 hingga 11 ton per hektare. Sebelum pendampingan, rata-rata produksi hanya 6,5 ton per hektare. Frekuensi panen pun naik dari satu kali menjadi dua kali setahun, sementara biaya produksi terpangkas.
Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, Noor Taufiq, mengatakan program ini sudah berjalan sejak 2025 dan kini memasuki masa panen kedua.
"Rata-rata produksi yang sebelumnya kami dampingi itu di 6,5 ton, saat ini kelompok tani pada saat panen, produksi GKP, gabah kering panennya itu di angka 8,5 sampai 11 ton bahkan," ungkap Taufiq.
Petani didorong mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Mereka memproduksi pupuk organik mandiri dari fermentasi limbah dan kotoran hewan. Sistem pertanian berbasis Agens Hayati juga diterapkan, seperti musuh alami hama dan rumah burung hantu.
Pendekatan itu menyasar akar masalah kesuburan tanah, bukan sekadar menambah asupan input kimia. Hasilnya terlihat pada volume panen yang melonjak dan biaya produksi yang lebih ringan.
Indramayu dikenal sebagai jantung lumbung padi nasional. Pertamina EP Jatibarang Field beroperasi di tengah wilayah yang 90 persen warganya adalah petani. Kondisi itu membuat perusahaan menempatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai dua hal yang saling terkait.
"Masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, 90%-nya bersinggungan dengan lahan pertanian. Sehingga ini merupakan salah satu concern kami bagaimana kita bisa berdaya bersama, bersinergi di mana ketahanan pangan dan ketahanan energi," kata Taufiq di Desa Jatisura, Rabu (23/9/2026).
Ketua Kelompok Tani Gunda Rejeki, Suradi, berharap pendampingan ini terus berjalan. Menurutnya, peningkatan hasil masih bisa berlanjut selama kerja sama dengan Pertamina terjaga.
"Harapannya sih program ini sudah berkelanjutan. Jadi ketika ada peningkatan sedikit, kalau masih ada kerjasama kan akan meningkat lagi. Mungkin saat ini fokus kita masih di tanam padi, tanam padi," ujarnya.
Bagi Pertamina EP Jatibarang Field, program Jari Tangan menjadi cara menjaga hubungan dengan warga di sekitar wilayah operasi sekaligus mendorong ekonomi desa. Bagi petani Indramayu, hasilnya sudah terukur: panen lebih banyak, biaya lebih murah, dan tanah yang perlahan pulih.