SUMATERA BARAT — Persik Kediri menahan imbang Arema FC 1-1 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Jumat (18/9/2026), dan pelatih Marcos Reina Torres membuka rahasia di baliknya. Tumpukan pemain di lini tengah jadi kunci Persik mematikan kreativitas Singo Edan hampir sepanjang laga.
Marcos Reina Torres membeberkan peta kekuatan Arema FC usai laga Pekan 3 Super League yang berakhir 1-1 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Jumat (18/9/2026) sore. Juru taktik asal Spanyol itu menilai timnya sukses meredam kegarangan Singo Edan yang biasanya mendikte jalannya pertandingan.
Reina menyebut strategi utamanya adalah mematikan kreativitas lini tengah Arema. Persik sengaja menumpuk pemain di area dalam dengan skema pergerakan dinamis tiga hingga empat pemain saat membangun serangan dari bawah.
Dominasi jumlah pemain di area tengah itulah yang membuat Persik sanggup mendikte permainan hingga menit ke-75. Reina mengungkapkan, tumpukan tersebut membuat para gelandang Arema ragu-ragu dalam melakukan pengawalan.
"Pada pertandingan lain, Arema selalu mampu mengontrol permainan. Namun hari ini, kami tidak membiarkan mereka bermain sesuai dengan keinginan mereka," kata Marcos Reina, Jumat (18/9/2026).
Reina menilai kubu lawan menunjukkan rasa hormat kepada stabilitas Persik dengan memilih bertahan lebih dalam. "Saya rasa Arema juga menghormati kami dengan memilih bermain dalam blok menengah ke bawah," bebernya.
Meski sukses mengurung gaya permainan Singo Edan di sebagian besar laga, Reina tidak menampik Arema FC merupakan tim yang sangat berbahaya jika diberikan celah sedikit saja. Ia menyoroti dua keunggulan utama Arema yang sejak awal diwanti-wantikan kepada anak asuhnya.
"Kami tahu mereka adalah tim yang sangat berbahaya dalam serangan balik. Mereka memiliki pemain-pemain yang cepat dan kuat untuk berlari di belakang garis pertahanan kami," puji Reina.
Selain kecepatan serangan balik, ketangguhan fisik pemain Arema dalam memanfaatkan bola mati di dalam kotak penalti memaksa Persik menyisakan dua pemain ekstra di luar area terlarang. Reina menilai Arema FC sejatinya dihuni materi pemain berkualitas di setiap lini, apalagi ketika penyerang utama mereka dipastikan segera kembali bugar 100 persen.
Reina melontarkan sindiran keras terkait dinamika 15 menit terakhir pertandingan, saat Arema mulai mengguyur gelombang serangan masif. Ia menilai kebangkitan Arema di menit-menit akhir tidak lepas dari keputusan wasit yang dinilainya terlalu murah memberikan tiupan peluit pelanggaran untuk tuan rumah.
"Di 10 sampai 15 menit terakhir mereka menekan. Tapi saya pikir mereka seolah membutuhkan kepemimpinan wasit, karena hampir setiap kontak berbuah pelanggaran untuk mereka dan jarang sekali untuk Persik," sindir Reina.
Tiupan peluit pelanggaran berulang tersebut memaksa lini belakang Persik menderita digempur umpan-umpan bola mati di area pertahanan sendiri.
Senada dengan sang pelatih, gelandang serang Persik Kediri, Bayu Otto, membenarkan masuknya penyerang-penyerang segar Arema di akhir babak kedua sempat merusak kestabilan skema transisi timnya.
"Di menit ke-75 ke atas, Arema memasukkan pemain depan lebih banyak dan terus menggempur. Kami terpaksa fokus bertahan dan itu sedikit mengganggu skema serangan balik kami," aku Bayu Otto.
Kendati menyayangkan kegagalan mengonversi dominasi menjadi gol kemenangan, Marcos Reina menutup komentarnya dengan melayangkan apresiasi tinggi atas daya juang anak asuhnya yang berhasil membawa pulang satu poin krusial dari markas Singo Edan.