Pencarian

Universitas Andalas Padang Kaji Sistem Pertanian Tradisional Minangkabau 'Parak' untuk Hadapi Perubahan Iklim

Sabtu, 20 Juni 2026 • 18:02:02 WIB
Universitas Andalas Padang Kaji Sistem Pertanian Tradisional Minangkabau 'Parak' untuk Hadapi Perubahan Iklim
Peneliti UNAND mengkaji sistem pertanian tradisional Minangkabau 'parak' sebagai model adaptasi perubahan iklim.

Peneliti dari Fakultas Pertanian UNAND, Yulinda, menyebut sistem parak memiliki potensi besar menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan. Riset ini dilakukan di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, yang merupakan kawasan penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Anai.

"Kearifan lokal Minangkabau berupa sistem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan," kata Yulinda di Padang, Sabtu.

Agroforestri Berlapis: Pohon Pelindung Hingga Rempah di Lantai Hutan

Dalam praktiknya, masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengembangkan pola agroforestri berlapis. Pohon-pohon seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang dipertahankan sebagai pelindung utama kawasan hutan sekaligus penyerap karbon.

Pada lapisan berikutnya ditanam kakao, sedangkan tanaman rempah seperti jahe, kunyit, dan serai tumbuh di lantai hutan sebagai sumber pendapatan tambahan. UNAND tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset secara langsung bersama masyarakat.

Tiga Manfaat Sekaligus: Produktivitas, Ketahanan Iklim, dan Karbon

Hasil penelitian menunjukkan model tersebut menjawab tiga tujuan utama pertanian cerdas iklim. Pertama, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha. Kedua, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Ketiga, berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

"Selain memberikan manfaat ekologis, sistem agroforestri juga membuka peluang ekonomi baru termasuk potensi pengembangan perdagangan karbon berbasis masyarakat yang saat ini mulai menjadi perhatian dunia," ujar Yulinda.

Mengapa Hutan Nagari Salibutan Jadi Lokasi Riset?

Kawasan Hutan Nagari Salibutan berperan sebagai daerah tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Namun, perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta tingginya risiko bencana hidrometeorologi menjadikan kawasan tersebut rentan terhadap degradasi lingkungan. Riset ini menjadi salah satu upaya UNAND mencari solusi konkret dari ancaman tersebut dengan mengangkat kearifan lokal yang sudah lama dipraktikkan masyarakat Minangkabau.

Bagikan
Sumber: sumbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks