SUMATERA BARAT — Rencana kolaborasi antara Honda Motor Co. dan Nissan Motor Co. kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, bukan sekadar wacana merger dua tahun lalu yang sempat gagal, melainkan kesepakatan teknis yang lebih konkret. Dikutip dari media lokal Jepang, The Asahi Shimbun, kedua perusahaan berada di tahap akhir negosiasi untuk mengembangkan unit kontrol elektronik (ECU) secara bersama.
Mengapa ECU dan SDV Jadi Titik Temu Strategis
ECU yang dimaksud bukan sekadar komponen biasa. Unit ini dirancang khusus untuk kendaraan berbasis perangkat lunak atau Software-Defined Vehicle (SDV). SDV adalah mobil generasi berikutnya yang sistem operasinya bisa diperbarui dari jarak jauh (over-the-air), memungkinkan penambahan fitur seperti kemampuan mengemudi otonom dan aplikasi navigasi peta.
"Honda dan Nissan juga sedang membahas berbagi perangkat lunak sistem operasi yang terpasang di kendaraan mereka," kata sumber yang tidak disebutkan namanya kepada The Asahi Shimbun. Dengan menyatukan pengembangan ECU, kedua pabrikan bisa memangkas biaya riset dan produksi secara signifikan.
Mitsubishi Juga Ikut Menumpang
Langkah ini tidak hanya melibatkan dua pabrikan. Mitsubishi Motors Corp., yang saat ini menjadi afiliasi Nissan, juga disebut-sebut bisa memanfaatkan ECU hasil kerja sama tersebut. Ini menunjukkan bahwa aliansi teknis di antara pabrikan Jepang mulai mengerucut menjadi satu platform bersama untuk menghadapi era SDV.
Sebelumnya, pada 2024 lalu, Honda dan Nissan telah mengumumkan kesepakatan awal untuk kerja sama di bidang SDV dan baterai. Pembicaraan sempat merambah ke kemungkinan merger, namun Nissan menolak proposal Honda untuk menjadi anak perusahaan. Kini, diskusi dilanjutkan dalam bentuk kemitraan yang lebih realistis.
Tekanan dari Amerika dan China Memaksa Jepang Bergerak
Latar belakang kerja sama ini adalah kondisi finansial Honda yang kurang menggembirakan. Perusahaan mengalami kerugian besar untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun. Dengan berbagi biaya pengembangan ECU dan sistem operasi, Honda dan Nissan berharap bisa mengejar ketertinggalan dari produsen mobil Amerika Serikat dan China yang sudah lebih dulu maju dalam pengembangan SDV.
Presiden dan CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, menyebut perkembangan kerja sama ini sudah cukup jauh. "Bahkan, beberapa aspek kerja sama mendekati pengumuman resmi," ujarnya kepada Asia Nikkei. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada detail teknis final yang diumumkan ke publik.