Bencana di Lima Puluh Kota bukan soal "jika", melainkan "kapan". Wilayah ini menyimpan potensi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga kebakaran. Namun, selama ini masyarakat kerap menjadi objek yang pasif menunggu petugas tiba. KSB Sulam Naga mencoba membalik logika itu.
Enam nagari yang menjadi cikal bakal — Andiang, Suliki, Limbanang, Tanjung Bungo, Kurai, dan Sungai Rimbang — kini memiliki kader yang terlatih. Mereka bukan sekadar relawan dadakan. Tugas mereka jelas: memetakan titik rawan, menjalankan evakuasi awal, dan menjaga Lumbung Sosial agar pasokan logistik tetap mengalir saat akses terputus.
Simulasi Bukan Sekadar Formalitas
Setelah pengukuhan, Lapangan Ateh Kubu di Jorong Suliki Pasar berubah menjadi lokasi uji coba. Taruna Siaga Bencana (Tagana), BPBD, TNI-Polri, dan warga setempat menggelar simulasi penanganan darurat. Mereka menguji standar operasional prosedur (SOP) mitigasi — dari sistem komando hingga evakuasi kelompok rentan.
Ini bukan panggung seremonial. Bupati Safni Sikumbang menegaskan bahwa amanah pengurus KSB adalah tanggung jawab nyata. "Masyarakat harus memiliki kemampuan menyelamatkan diri, membantu kelompok rentan, mengenali jalur evakuasi, dan mengambil tindakan cepat," ujarnya dalam apel kesiapsiagaan.
Anggaran Rp 157 Juta untuk Apa Saja?
Kementerian Sosial RI mengucurkan bantuan senilai Rp157.577.500. Angka ini terbagi untuk tiga program: pembentukan KSB, penguatan Lumbung Sosial, dan pelaksanaan Tagana Masuk Sekolah. Lumbung Sosial menjadi pusat logistik darurat yang akan menjamin ketersediaan bahan pokok ketika bencana memutus akses jalan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Indra Suryani, menjelaskan bahwa penanggulangan bencana harus dimulai sebelum bencana datang. "Masyarakat harus memahami potensi dan risiko di wilayahnya sehingga mampu melakukan antisipasi secara mandiri," katanya.
Mengapa Enam Nagari Ini Jadi Pilot Project?
Kecamatan Suliki dipilih bukan tanpa alasan. Topografinya yang berbukit dan dilewati aliran sungai membuat kawasan ini langganan longsor dan banjir bandang. Dengan mengukuhkan KSB di sini, pemerintah daerah ingin menciptakan model yang bisa direplikasi ke 13 kecamatan lain di Lima Puluh Kota.
Bupati Safni mengajak seluruh warga menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya. "Melalui kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian alam, dan semangat gotong royong," katanya. Frasa itu bukan retorika belaka — di nagari-nagari Sumatera Barat, gotong royong masih menjadi modal sosial paling ampuh saat darurat.