Erosi di tepian Batang Anai, Nagari Balah Hilia, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, kian melebar dan kini hanya berjarak beberapa meter dari badan jalan nasional Padang-Bukittinggi. Kondisi ini diperparah dampak banjir bandang November 2025 yang membuat laju pengikisan tanah mencapai 2-3 meter sejak awal tahun hingga Agustus 2026. Warga setempat mendesak pihak terkait segera turun tangan sebelum tebing sungai ambles dan memutus akses jalan utama.
PADANG PARIAMAN — Tepian Batang Anai di Nagari Balah Hilia, Kecamatan Lubuk Alung, terus tergerus. Berdasarkan pantauan udara pada Senin (24/8/2026), titik erosi terparah kini mendekati pemukiman warga dan aspal jalan nasional Padang-Bukittinggi, jalur vital yang menghubungkan dua kota besar di Sumatera Barat.
Belum ada penanganan dari pihak-pihak terkait, sementara laju erosi tak berhenti. Sepanjang tahun 2026, tebing sungai kehilangan tanah selebar 2-3 meter, menjadikan posisi jalan dan rumah warga semakin rentan terhadap longsor susulan.
Banjir Bandang November 2025 Memperparah Pengikisan
Kerusakan tebing sebenarnya bukan persoalan baru, namun skala kerusakan memburuk drastis setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut pada November 2025. Arus deras saat itu memangkas struktur tanah penyangga bantaran sungai.
Sejak kejadian itu, setiap kali debit air Batang Anai naik, material tepian sungai langsung tergerus. Warga mengaku khawatir jika musim hujan berikutnya datang dengan intensitas tinggi, jalur transportasi antarwilayah bisa lumpuh total.
Jalan Nasional Padang-Bukittinggi di Ujung Tebing
Jalan nasional Padang-Bukittinggi merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Minang. Ratusan kendaraan logistik dan penumpang melintas setiap harinya. Jika erosi terus berlanjut, ruas jalan ini terancam putus, mengganggu distribusi barang dari pesisir ke dataran tinggi.
Pantauan di lapangan menunjukkan jarak antara bibir tebing yang tergerus dengan bahu jalan hanya tinggal beberapa meter. Pada beberapa titik, akar pohon besar sudah menjuntai ke dasar sungai, pertanda tanah penyangga di bawahnya telah habis terkikis.
Warga Menunggu Aksi Konkret Pemerintah
Masyarakat Balah Hilia berharap pemerintah kabupaten dan balai pengelolaan sungai segera melakukan normalisasi atau penguatan tebing dengan bronjong. Keterlambatan penanganan berpotensi memakan korban jiwa dan kerugian material yang jauh lebih besar.
Belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait mengenai jadwal perbaikan. Warga berharap inspeksi lapangan segera dilakukan sebelum kondisi berubah menjadi darurat.