Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memetakan empat kondisi yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor di wilayah itu. Hasil pemetaan disampaikan dalam kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi daerah rawan bencana yang diikuti 150 peserta dari unsur kecamatan, desa, dan jajaran Desa Tangguh Bencana (Destana) di Meer Von Kandi. Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah meminta BPBD dan seluruh perangkat daerah menindaklanjuti temuan tersebut dengan langkah mitigasi.
SAWAHLUNTO — Kepala Pelaksana BPBD Sawahlunto Hilmed menyebutkan empat kondisi yang perlu mendapat perhatian terkait potensi banjir dan tanah longsor di daerah itu. Temuan tersebut merupakan hasil survei dan pemetaan yang dilakukan pihaknya di sejumlah titik rawan.
Kondisi pertama, terganggunya resapan air hujan akibat penebangan pohon penahan tanah pada lereng bukit. Hilmed menyampaikan hal itu secara langsung dalam kegiatan yang digelar di Meer Von Kandi.
Apa Saja 4 Kondisi yang Dipetakan BPBD Sawahlunto?
Empat kondisi tersebut meliputi terganggunya resapan air hujan akibat penebangan pohon penahan tanah pada lereng bukit. Selain itu, riol jalan yang tidak tersedia atau tidak berfungsi turut menjadi temuan.
BPBD juga mencatat daya tampung riol yang tidak maksimal menampung air hujan. Kondisi keempat, masih banyak rumah warga yang tidak mempunyai talang air.
"Kemudian riol jalan yang tidak tersedia atau tidak berfungsi, daya tampung riol yang tidak maksimal menampung air hujan, serta masih banyak rumah warga yang tidak mempunyai talang air," kata Hilmed.
Dampak Riol Tak Berfungsi: Air Hujan Melimpah ke Jalan
Daya tampung riol yang tidak maksimal membuat air melimpah ke jalan ketika hujan turun. Kondisi rumah warga yang tidak memiliki talang air juga menjadi bagian dari hasil pemetaan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mitigasi.
Dua temuan itu saling berkaitan. Air hujan yang tidak tertampung talang rumah langsung mengalir ke saluran jalan, sementara riol yang tersumbat atau tidak berfungsi memperparah genangan di permukaan.
150 Peserta Dibekali Materi Mitigasi Bencana
Hasil pemetaan disampaikan dalam kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi daerah rawan bencana. Kegiatan itu diikuti 150 peserta dari unsur kecamatan, desa, dan jajaran Desa Tangguh Bencana (Destana).
Materi kegiatan diarahkan pada mitigasi bencana, sekaligus penyampaian hasil pemetaan kerawanan. Peserta mendapat gambaran titik mana saja yang perlu diwaspadai di wilayah masing-masing.
Wawako Minta 7 Destana Beri Perhatian Khusus
Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah meminta BPBD dengan dukungan seluruh perangkat daerah terkait menindaklanjuti hasil pemetaan melalui langkah mitigasi. Dia juga mengajak pemerintah desa dan kelurahan bergerak melakukan mitigasi di wilayah masing-masing.
Permintaan itu terutama menyasar empat kondisi yang telah dipetakan BPBD. Sebanyak tujuh Destana yang telah aktif di Sawahlunto juga diminta memberi perhatian khusus terhadap temuan tersebut sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
Langkah mitigasi yang diminta mencakup penanganan riol, pengaturan resapan air di lereng bukit, hingga dorongan kepada warga agar rumah dilengkapi talang air. Pemerintah desa dan kelurahan menjadi ujung tombak pelaksanaan di tingkat paling bawah.