Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Sawahlunto, Sumatera Barat, memperkuat pengawasan keamanan lewat pemeriksaan internal harian dan razia gabungan bersama Badan Narkotika Nasional Kota Sawahlunto serta aparat penegak hukum. Razia yang digelar Selasa (22/9) itu menyisir kamar hunian dan memilih 15 dari 73 penghuni untuk tes urine acak. Seluruh sampel yang diperiksa dinyatakan negatif narkoba.
SAWAHLUNTO — Kepala Rutan Kelas IIB Sawahlunto Mustofa menyatakan pemeriksaan internal dijalankan petugas setiap hari untuk memantau kondisi hunian sekaligus mencegah pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. Pengawasan rutin itu diperkuat razia gabungan yang melibatkan BNN Kota Sawahlunto, Polres Sawahlunto, TNI, dan instansi terkait.
Dari 73 penghuni rutan yang terdiri atas 51 narapidana dan 22 tahanan, sebanyak 15 orang dipilih secara acak untuk menjalani pemeriksaan urine. Petugas juga menyisir kamar hunian dan sejumlah bagian rutan dalam operasi tersebut.
Apa Hasil Pemeriksaan Urine 15 Warga Binaan?
Seluruh sampel urine yang diperiksa dinyatakan negatif narkoba. Petugas tidak menemukan barang berbahaya maupun benda yang dilarang berada di dalam rutan.
"Untuk razia gabungan bersama BNN Kota Sawahlunto, Polres Sawahlunto, TNI, dan instansi terkait telah kami laksanakan pada Selasa (22/9) lalu dengan menyisir kamar hunian dan sejumlah bagian rutan serta melakukan tes urine secara acak terhadap warga binaan," kata Mustofa.
Sosialisasi P4GN Menyertai Razia Hunian
Kegiatan razia dirangkaikan dengan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) kepada warga binaan. Materi sosialisasi menyasar penghuni agar memahami risiko penyalahgunaan narkotika selama menjalani masa pidana.
Kepala BNN Kota Sawahlunto Didit Bagus Wicaksono mengatakan pemeriksaan serupa dapat kembali dilakukan sewaktu-waktu. Langkah itu disebut untuk memperkuat dan memperluas upaya pencegahan serta pemantauan di lingkungan rutan.
Pembinaan Kemandirian Jadi Bekal Warga Binaan
Penguatan pengawasan berjalan beriringan dengan optimalisasi pembinaan warga binaan melalui kegiatan rohani dan pembinaan kemandirian. Program kemandirian mencakup pembuatan mebel berupa meja dan kursi serta merangkai papan bunga.
Keterampilan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat. Pembinaan menyasar penghuni agar memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan setelah masa pidana berakhir.
Rutan Kelas IIB Sawahlunto menggabungkan dua pendekatan sekaligus: pengetatan pengawasan harian untuk menutup celah pelanggaran, dan pembinaan keterampilan untuk menyiapkan warga binaan kembali ke lingkungan masyarakat.