SUMATERA BARAT — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi mengalihkan pengelolaan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringannya kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) setelah pemegang saham independen menyetujui aksi korporasi tersebut dalam RUPSLB. Langkah ini menjadi bagian dari strategi TLKM 30, khususnya pilar unlocking value melalui monetisasi aset bernilai tinggi. Pengalihan diharapkan mempercepat pemerataan konektivitas digital dan membuka akses infrastruktur bagi lebih banyak pelaku industri.
Direktur Utama Telkom Indonesia Nanang Hendarno menyatakan persetujuan pemegang saham independen menjadi landasan bagi Telkom Group untuk merampungkan proses pemisahan segmen usaha wholesale fiber connectivity tahap kedua. Proses ini mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap agenda transformasi yang sedang dijalankan perseroan.
Pemisahan bisnis ini merupakan implementasi strategi TLKM 30, terutama pilar ketiga yang menekankan monetisasi aset bernilai tinggi dan optimalisasi pengelolaan aset. Dengan pengelolaan infrastruktur yang lebih terfokus di InfraNexia, Telkom melihat peluang lebih besar untuk meningkatkan utilisasi aset, memperluas jaringan, dan membangun kemitraan strategis.
Perubahan Model Bisnis Telkom
Aksi korporasi ini menandai transisi Telkom dari operating holding menjadi strategic holding dengan model holdco dan operating company (opco). Dalam struktur baru tersebut, setiap entitas di Telkom Group diharapkan lebih fokus mengembangkan lini bisnisnya masing-masing.
Telkom sendiri akan berperan pada aspek strategis, termasuk tata kelola dan penciptaan sinergi di tingkat grup. Nanang menegaskan struktur yang lebih fokus ini memberi ruang bagi setiap entitas untuk bergerak lebih agile dengan lini usaha yang terkonsentrasi.
Dampak ke Industri dan Pelanggan
Pengalihan pengelolaan infrastruktur jaringan ke InfraNexia diharapkan membuka akses bagi lebih banyak pelaku industri telekomunikasi. Artinya, penyedia layanan internet, operator seluler, dan perusahaan digital lain berpotensi memanfaatkan jaringan fiber Telkom tanpa harus membangun infrastruktur sendiri dari nol.
Bagi masyarakat, langkah ini berpeluang mempercepat pemerataan konektivitas digital, terutama di wilayah yang selama ini belum terjangkau jaringan berkualitas. Utilisasi aset yang lebih tinggi juga dapat menekan biaya operasional dan pada akhirnya memengaruhi harga layanan di tingkat konsumen.
Target dan Harapan ke Depan
Telkom berharap transformasi ini menjadi katalis bagi sumber pendapatan baru dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan. Peningkatan nilai bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan menjadi sasaran utama dari seluruh rangkaian aksi korporasi tersebut.
Dengan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan kini resmi dikelola InfraNexia, Telkom memposisikan diri sebagai pemain yang lebih ramping di sisi operasional, namun tetap kuat di sisi strategis. Langkah ini sekaligus menegaskan arah perseroan untuk tidak lagi bergantung pada kepemilikan fisik aset, melainkan pada pengelolaan nilai dan sinergi grup.