PADANG PANJANG — Lima santri yang mencapai hafalan 30 juz itu adalah M. Aqli Sairud, Farras Kamila Tsabit, Mayanggi Sephira, Tazkiya Balqis, dan Azizi Arif. Mereka menjadi pusat perhatian saat namanya dipanggil satu per satu di Aula Hotel Grand Aulia, Padang Panjang. Masing-masing mendapat apresiasi uang tunai Rp3 juta sebagai buah dari proses panjang menghafal kalam Ilahi.
Selain itu, dua penghargaan spesial diberikan. Firzana Hafidza dinobatkan sebagai Hafiz Terbaik berkat ketepatan dan kelancaran hafalannya. Sementara Facrul Hamdi Medha meraih gelar Santri Terbaik Hafalan Hadits Mi’ah Bukhari.
Acara wisuda berlangsung khidmat. Sejak pagi, jalan menuju hotel sudah ramai oleh iringan marching band para santri. Namun, suasana sempat berubah hening saat Mudir Pesantren menyampaikan kabar duka: Afdhalu Zikri, seorang santri terbaik, telah berpulang ke Rahmatullah. Seluruh hadirin memanjatkan doa bersama.
Bapak Suarman, Kasi Penmad yang mewakili Kepala Kemenag Padang Panjang, berpesan agar para wisudawan menjaga akhlak dan nama besar pesantren. "Jaga akhlak, jaga sikap, dan jaga nama besar pesantren ini," ujarnya.
Puncak suasana justru datang saat Hendri Novigator dari PWM Sumatera Barat memberikan taujih. Kata-katanya disebut menusuk kalbu dan membuat seluruh hadirin terdiam terhipnotis.
Momen paling emosional terjadi di penghujung acara. Seratus empat puluh satu santri naik ke panggung dan menyanyikan lagu Ruang Baru. Suara mereka syahdu, mata mereka basah. Orang tua menangis di kursi. Para guru menyeka pelupuk mata. Tamu undangan tak kuasa menahan haru.
Pesan dari 141 santri itu jelas: perpisahan bukanlah akhir, melainkan ruang baru untuk menyebarkan akhlak mulia ke seluruh penjuru dunia. Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah mencetak generasi penghafal Qur’an dan hadits yang siap bersinar.