PULAU PUNJUNG — Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, ambrol hingga Rp750 per kilogram dalam sehari. Penurunan dari Rp3.180 menjadi Rp2.430 per kilogram ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dan langsung memukul ribuan pekebun di daerah tersebut.
Informasi mengenai penurunan harga ini diterima para petani pada Jumat (22/5) malam dari pengurus Koperasi Unit Desa (KUD). Syahrial (54), petani asal Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang, mengaku terkejut dengan besaran anjloknya harga komoditas utama mereka.
"Kalaupun turun, itu paling 75 rupiah sampai 100 rupiah per kilo. Sekarang kami petani tentu berpikir panjang," ujarnya kepada wartawan di Pulau Punjung, Jumat.
Asmanto (38), petani dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Padang Laweh, menyampaikan kekhawatiran yang lebih dalam. Ia menilai penurunan harga yang berkepanjangan akan menghancurkan usaha tani mereka.
"Kalau lama-lama kayak gini, hancur kami petani. Pupuk mahal sekarang, pestisida mahal, upah panen mahal, belum lagi untuk biaya perawatan lainnya," keluhnya.
Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Dharmasraya segera turun tangan mencari solusi agar harga TBS bisa kembali stabil. Mereka menilai situasi ini darurat karena biaya operasional kebun sudah sangat tinggi.
Dampak anjloknya harga tidak hanya dirasakan petani. Suherman, pemilik timbangan ram (pengumpul) di Kecamatan Tiumang, mengaku merugi hingga belasan juta rupiah. Ia terlanjur membeli 21 ton TBS dari petani dengan harga Rp3.200 per kilogram pada siang hari, sebelum harga resmi turun.
"Saat kami mau jual sore hari, pabrik sudah tidak menerima. Kita rugi," ungkap Suherman.
Ia menambahkan, harga yang ia bayarkan ke petani pada Jumat ini turun Rp700 per kilogram menjadi Rp2.500 per kilogram. Meski terpuruk, ia berharap para petani tetap menjaga kualitas TBS agar harga jual bisa lebih baik di masa mendatang.