SUMATERA BARAT — Dominasi Premier League di dua kompetisi Eropa di bawah Liga Champions dalam dua musim terakhir bukanlah sekadar tren. Angkanya mencengangkan: 21 pertandingan sistem gugur, 21 kemenangan. Dua kekalahan yang tercatat pun terjadi saat klub Inggris saling mengeliminasi. Pertanyaannya, apakah ini siklus kejayaan sepak bola Inggris, atau bukti nyata bahwa kesenjangan finansial telah menciptakan panggung yang tidak seimbang?
Data dari Deloitte Money League 2026 menunjukkan akar masalah. Meski Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, dan PSG menguasai puncak daftar klub terkaya, 15 dari 20 klub Premier League menghuni posisi 5 hingga 30. Brighton di peringkat 23, Bournemouth di posisi 26 dengan stadion berkapasitas 11.000 penonton, hingga Brentford di urutan 30—semuanya melampaui pendapatan klub-klub papan atas dari liga lain.
Pendapatan siaran televisi Premier League mencapai lebih dari £1,37 miliar per musim. Angka ini hampir menyamai gabungan pendapatan hak siar La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1. "Bahkan klub Championship seperti Leeds, Sheffield United, Burnley, dan Luton menghasilkan pendapatan lebih besar dari Rayo Vallecano musim 2024-25," ujar pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, kepada BBC Sport.
Pertandingan final menjadi ilustrasi paling gamblang. Crystal Palace, dengan pendapatan £197 juta, mengalahkan Rayo Vallecano (£52 juta) di final Conference League. "Palace memenangi kompetisi dengan pendapatan yang jauh melampaui klub lain," tegas Maguire. Ia menambahkan, skuad Chelsea saat menjuarai edisi 2024-25 memiliki biaya lebih tinggi dari gabungan 35 tim lain di turnamen yang sama.
Di Europa League, Aston Villa (£392 juta) dengan mudah menekuk Freiburg (£141 juta) dengan skor 3-0. "Pendapatan Freiburg lebih rendah dari setiap klub Premier League," kata Maguire. Ketimpangan ini membuat Premier League berpeluang menjadi liga pertama sejak Italia 1989-90 yang menyapu bersih tiga trofi Eropa dalam satu musim—dengan Arsenal di Liga Champions sebagai ujung tombak.
Namun, cerita berubah drastis di Liga Champions. Lima dari enam klub Inggris finis di delapan besar fase grup, mengalahkan raksasa seperti Bayern Munich, Barcelona, dan Real Madrid. Tapi begitu memasuki fase gugur, performa mereka justru menurun. "Premier League clubs get found out against the very richest clubs," tulis laporan BBC Sport.
Fenomena ini melahirkan label "flat-track bully"—tim yang mendominasi lawan dengan sumber daya lebih rendah, namun gagal menerjemahkannya menjadi kesuksesan di panggung tertinggi. Saat La Liga mendominasi Eropa 15 tahun lalu, pendekatan taktis dan gaya bermain mereka dipuji. Kini, dominasi Premier League kerap disambut sinisme: dengan kekayaan luar biasa, bukankah seharusnya mereka selalu menang?
Conference League sendiri dirancang untuk memberi lebih banyak tim kesempatan bermain di Eropa. Namun, kebutuhan Uefa akan daya tarik siaran justru memaksa format ini diisi oleh klub-klub dari lima liga top Eropa. Akibatnya, alih-alih menciptakan persaingan sehat, kompetisi ini justru menjadi panggung bagi superioritas finansial Premier League yang tak tertandingi. Pertanyaan besarnya: akankah siklus ini berubah, atau justru kesenjangan akan terus melebar?