PADANG — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat meyakini laju inflasi daerah sepanjang 2026 masih terjaga di rentang target nasional. Keyakinan ini disampaikan meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Mei 2026 sebesar 0,90 persen secara month to month (mtm).
Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, menegaskan tekanan inflasi yang terjadi bersifat sementara. Menurutnya, kenaikan harga terutama dipicu faktor musiman dan gangguan pasokan komoditas hortikultura.
Andy menjelaskan bahwa kenaikan inflasi Mei didorong oleh lonjakan harga cabai merah yang mencapai 26,03 persen. Komoditas ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan di Sumatera Barat.
"Kenaikan harga cabai merah terjadi akibat meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha yang bersamaan dengan terganggunya pasokan karena penurunan produksi dan kerusakan hasil panen akibat curah hujan tinggi," ujar Andy dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).
Selain cabai merah, harga bawang merah, minyak goreng, nasi dengan lauk pauk, serta tarif angkutan udara juga ikut mendorong inflasi. Namun, tekanan tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, jengkol, dan emas perhiasan.
Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,91 persen. Namun, secara kumulatif sejak Januari hingga Mei 2026, inflasi masih relatif rendah, yakni 0,47 persen.
Angka ini jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Mei 2025, inflasi kumulatif Sumatera Barat mencapai 1,80 persen.
Andy menyebutkan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat program pengendalian inflasi. Langkah yang ditempuh meliputi penguatan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengelolaan ekspektasi masyarakat.
Beberapa program yang dijalankan antara lain memperluas operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah, memperkuat kerja sama antar daerah, serta mempercepat perbaikan infrastruktur distribusi pascabencana. Selain itu, TPID juga mendorong peningkatan ketahanan pasokan hortikultura melalui urban farming dan penguatan kelompok tani.
Meski optimistis, BI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi pada semester kedua tahun ini. Risiko tersebut meliputi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu produksi pertanian, disparitas harga pangan antarwilayah, gangguan rantai pasok, serta tekanan harga komoditas global.
"Sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat agar inflasi Sumatera Barat tetap berada dalam rentang sasaran, sehingga daya beli masyarakat dan stabilitas perekonomian daerah dapat terus terjaga," ujar Andy.