PADANG — Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumbar, Sari Lenggogeni, menyebutkan bahwa keluhan wisatawan soal waktu tempuh perjalanan yang semakin panjang menjadi indikator paling terasa. "Kita sudah survei juga ternyata banyak wisatawan yang mengeluhkan dan komplain karena waktu yang lama di jalan," ujarnya di Kota Padang, Selasa.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumbar, Aceh, dan Sumatera Utara pada akhir 2024 lalu meninggalkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Jalan nasional di Lembah Anai, jalur utama penghubung Padang dengan Bukittinggi, menjadi titik kritis yang hingga kini dalam proses perbaikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Menurut Sari, meskipun pemerintah pusat terus berupaya mempercepat pemulihan, dampaknya terhadap sektor pariwisata sudah telanjur terasa. "Sekarang ini yang menjadi masalah di Sumatera Barat adalah aksesibilitas dan konektivitas," tegas akademisi yang juga menjabat sebagai pakar pariwisata di UNAND itu.
Alih-alih menunggu pemulihan total di jalur utama, Sari mendorong pengambil kebijakan untuk mengarahkan pengembangan pariwisata ke daerah yang minim terdampak bencana. Kota Padang dan kawasan Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan dinilai sebagai pilihan yang menarik bagi wisatawan.
"Kota Padang dan kawasan Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan ini bisa menjadi pilihan yang menarik bagi wisatawan," kata Sari.
Kabupaten Kepulauan Mentawai juga disebut wajib masuk dalam daftar destinasi. Selain terkenal sebagai surga selancar dengan ombak setara Hawaii, Mentawai juga menawarkan wisata minat khusus alam dan kekayaan budaya asli, termasuk tradisi tato tertua di dunia yang telah mendatangkan banyak publik figur tanah air hingga internasional.
Meski potensinya besar, akses menuju Mentawai masih menjadi persoalan klasik. Hingga kini, belum ada maskapai yang menerbangkan pesawat berbadan besar seperti Boeing ke Bandara Udara Mentawai.
Penyebabnya, landasan pacu bandara setempat yang hanya berukuran 1.500 x 30 meter, sehingga hanya dapat dilayani oleh pesawat tipe ATR 72-600. "Jadi, dengan segala kekayaan alam Sumbar ini yang terpenting ialah percepatan aksesibilitas dan konektivitas khususnya bagi wisatawan," pungkas Sari.