PADANG — BMKG Minangkabau mencatat potensi hujan sedang hingga lebat akan terjadi secara bertahap di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Pada Sabtu (13/6) siang hingga sore hari, hujan lebat diprakirakan mengguyur Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Lima Puluh Kota, dan Solok Selatan.
Memasuki malam hari, potensi hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi di Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Solok, dan Solok Selatan. BMKG mengeluarkan peringatan dini khusus agar warga di daerah tersebut mewaspadai genangan air dan pohon tumbang akibat angin kencang yang menyertai hujan.
Pada Minggu pagi, hujan ringan diprakirakan turun di Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, dan Kota Pariaman. Sementara Kepulauan Mentawai kembali berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat sejak pagi hari. Memasuki siang hingga sore, potensi hujan lebat meluas ke Tanah Datar dan Dharmasraya, selain delapan wilayah yang sudah disebutkan sebelumnya.
BMKG mengingatkan bahwa pada Minggu malam, hujan lebat masih akan berkonsentrasi di Solok Selatan dan Dharmasraya. Kedua wilayah ini berada di perbatasan dengan provinsi tetangga dan kerap mengalami luapan sungai saat intensitas hujan tinggi.
Pada Senin, kondisi cuaca pagi hari umumnya berawan. Hujan ringan diprakirakan terjadi pada siang hingga sore hari, dengan potensi hujan sedang hingga lebat kembali berpeluang di Kepulauan Mentawai. Memasuki malam hari, hujan lebat diprakirakan bergeser ke Tanah Datar, Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, Sawahlunto, Kabupaten Solok, dan Sijunjung.
Selama periode 13 hingga 15 Juni 2026, suhu udara di Sumatera Barat diperkirakan berkisar antara 18 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan udara mencapai 60 hingga 98 persen. Kecepatan angin umumnya bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan antara 4 hingga 38 kilometer per jam.
BMKG mengimbau nelayan dan operator kapal kecil di perairan barat Sumatera Barat, terutama sekitar Kepulauan Mentawai, untuk mewaspadai peningkatan kecepatan angin yang bisa mencapai 38 km/jam. Kondisi ini berpotensi memicu gelombang tinggi di perairan terbuka.