PADANG — BMKG Maritim Teluk Bayur memproyeksikan kondisi cuaca di perairan Sumatera Barat dalam tiga hari ke depan masih didominasi oleh hujan petir dan gelombang sedang. Potensi gelombang setinggi 2,5 meter menjadi perhatian utama karena dapat membahayakan kapal nelayan berukuran kecil.
Berdasarkan prakiraan yang dirilis Sabtu (13/6/2026), gelombang setinggi 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan Timur Siberut, Timur Sipora, Timur Pagai, serta Barat Siberut, Barat Sipora, dan Barat Pagai. Pada periode 15 Juni 2026, potensi serupa juga meluas hingga perairan Pesisir Selatan.
Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan berkisar antara 2 hingga 13 knot. Kondisi ini membuat perairan di sekitar Kepulauan Mentawai menjadi yang paling rawan dibandingkan pesisir daratan Sumatera Barat.
Selain gelombang tinggi, BMKG juga memperingatkan potensi hujan petir yang tersebar di beberapa titik. Pada 14 Juni, hujan petir diperkirakan terjadi di perairan Agam-Pasaman Barat, Padang-Padang Pariaman, dan empat zona di Kepulauan Mentawai.
Pada hari kedua, 15 Juni, hujan petir diprediksi mengintai perairan Timur Pagai dan Barat Pagai. Sementara itu, potensi kabut diperkirakan muncul di perairan Barat Siberut dan Barat Sipora, yang bisa mengurangi jarak pandang pelayaran secara signifikan.
BMKG juga merilis prediksi pasang surut untuk 14 Juni 2026. Pasang laut diperkirakan terjadi pada pukul 04.00-08.00 WIB dan 17.00-19.00 WIB. Sementara surut laut berlangsung pada pukul 11.00-13.00 WIB dan 22.00-24.00 WIB.
Informasi ini penting bagi nelayan yang hendak bersandar atau melaut. Pasang surut yang ekstrem dapat mempengaruhi akses masuk ke pelabuhan atau muara sungai.
BMKG Maritim Teluk Bayur mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, agar selalu memantau perkembangan informasi cuaca maritim sebelum melakukan aktivitas di perairan Sumatera Barat. Data cuaca terkini dapat diakses melalui kanal resmi BMKG atau aplikasi daring.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa musim pancaroba di Samudra Hindia barat Sumatera kerap memicu gelombang tinggi yang datang tiba-tiba. Nelayan tradisional dengan kapal motor tempel paling disarankan untuk menunda pelayaran hingga kondisi laut benar-benar membaik.