Tragedi dan Kerusuhan Warnai Perayaan Kemenangan Prancis atas Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026

Penulis: Ridwan Azhari  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 23:04:01 WIB
Kerusuhan pecah di London saat perayaan kemenangan Prancis atas Maroko di Piala Dunia 2026.
bentrok dengan puluhan suporter yang melempar botol dan kembang api hingga satu aparat dilarikan ke rumah sakit. ISI:

SUMATERA BARAT — Perayaan kemenangan timnas Prancis yang menundukkan Maroko 2-0 di perempat final Piala Dunia 2026 berubah menjadi tragedi dan kerusuhan. Di Paris, ribuan orang turun ke jalan untuk berpesta. Namun di London, euforia berujung pada kekerasan.

Polisi Terluka, Empat Orang Diamankan

Kepolisian London melaporkan satu petugas mengalami cedera kepala setelah diduga terkena lemparan botol kaca. Empat orang ditangkap dalam insiden yang disebut sebagai "violent disorder" atau kerusuhan brutal.

Kerusuhan pecah di kawasan Edgware Road, dekat Hyde Park, setelah sekelompok orang memblokir jalan. "Insiden meningkat dengan kelompok itu melempar botol dan menyalakan kembang api," kata juru bicara polisi, Jumat (19/6) waktu setempat.

Duka di Tengah Euforia: Remaja Tewas Jatuh dari Truk

Di Prancis, layanan darurat mengonfirmasi kematian seorang gadis 17 tahun yang jatuh dari truk saat berpesta di jalanan. Ribuan polisi dikerahkan untuk mengamankan perayaan di berbagai kota, termasuk Paris yang dipadati ratusan pendukung yang menari dan bernyanyi.

Perempat Final Berlanjut: Spanyol vs Belgia, Siapa Lebih Diunggulkan?

Di tengah hiruk-pikuk di luar lapangan, perempat final masih menyisakan satu laga besar: Spanyol versus Belgia. Jurnalis olahraga asal Afrika Selatan yang meliput langsung mengaku mulai mendukung Belgia. Bukan karena sentimen, melainkan karena rasa sayang pada generasi emas yang menua.

"De Bruyne, Courtois, Witsel, Lukaku, dan Meunier semuanya di atas 33 tahun. Akan menyenangkan jika mereka punya kesempatan nyata mencapai final," tulisnya dalam laporan langsung.

Sementara itu, Spanyol justru tampil sebagai tim paling disiplin dan terkontrol di turnamen ini. Jurnalis kenamaan Sid Lowe bahkan melontarkan pertanyaan provokatif: "Apakah Spanyol adalah penjahatnya?"

Kontroversi VAR: Konspirasi atau Sekadar Inkonsistensi?

Penggunaan teknologi VAR kembali menjadi perbincangan. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, mengkritik keputusan yang menganulir gol timnya saat kalah dari Argentina. Ia menuduh adanya intervensi dan inkonsistensi.

Namun, kepala wasit FIFA Pierluigi Collina membela keputusan tersebut. Menurutnya, VAR berjalan baik dan gol Mesir sah-sah saja dianulir karena ada pelanggaran di awal proses gol.

"Saya pikir ada inkonsistensi, tapi tidak ada konspirasi," tulis jurnalis yang meliput langsung, menolak teori konspirasi yang mulai merebak di kalangan penggemar.

Jorge Jesus Resmi Tangani Portugal, Kabar Baik untuk Ronaldo?

Kabar besar datang dari Portugal. Federasi Sepak Bola Portugal resmi menunjuk Jorge Jesus sebagai pelatih anyar timnas. Pria berusia 71 tahun itu menggantikan Roberto Martinez yang mundur setelah tersingkir dari Piala Dunia.

"Hari ini kami memulai jalan baru. Selamat datang di tim nasional, Tuan Jorge Jesus," demikian pernyataan resmi federasi.

Menariknya, Jesus sebelumnya melatih Al-Nassr, klub tempat Cristiano Ronaldo bermain. Ia mengaku menerima pekerjaan di Arab Saudi hanya untuk membantu CR7 meraih gelar lagi. Kini, keduanya akan bersatu kembali di level internasional.

Bursa Transfer: Ebony Salmon ke West Ham, Pierce Charles Pinjam ke QPR

Di luar Piala Dunia, bursa transfer wanita dan pria terus bergulir. Penyerang Ebony Salmon pindah secara gratis dari Aston Villa ke West Ham di Women's Super League. Sementara itu, Queens Park Rangers mengontrak kiper muda Pierce Charles dengan status pinjaman dari Manchester City.

Di divisi bawah, Ossama Ashley bergabung ke Rotherham United dari Salford City, Isaac Hayden ke Leyton Orient dari QPR, dan Kyle Joseph ke Middlesbrough dari Hull City.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top