Profesor Unand dan Peneliti Filipina Kaji Dadih Jadi Pangan Fungsional, Targetkan Tepung Tahan Lama

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 22:39:01 WIB
Guru besar Unand dan peneliti Filipina berkolaborasi meneliti potensi dadih sebagai pangan fungsional.

PADANG — Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand, Prof. Helmizar, berkolaborasi dengan Pierangeli G. Vital dari University of the Philippines Diliman untuk meneliti potensi dadih sebagai pangan fungsional. Kerja sama ini bertujuan mengoptimalkan kandungan probiotik dan memperpanjang masa simpan dadih melalui teknologi modern.

Mengubah Dadih Jadi Tepung Fungsional

Dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan inovasi berbasis dadih menggunakan teknologi spray dryer. Proses ini menghasilkan tepung dadih yang memiliki daya simpan lebih panjang tanpa menghilangkan karakteristik utamanya sebagai pangan fermentasi.

"Kerja sama ini fokus pada pengembangan pangan fungsional berbasis dadih," kata Prof. Helmizar di Padang, Selasa. Ia menjelaskan bahwa dadih merupakan pangan tradisional khas Sumbar yang potensial dikembangkan melalui pendekatan ilmiah.

Dari Roti Bergizi hingga MPASI Lokal

Tepung dadih yang dihasilkan kemudian menjadi bahan baku pengembangan berbagai produk. Tim peneliti merancang roti bergizi, makanan pendamping air susu ibu (MPASI), serta formulasi pangan berbahan baku lokal seperti sorgum, ubi jalar merah, jagung, kacang merah, dan kedelai.

Pendekatan ini tidak hanya mengoptimalkan potensi dadih, tetapi juga memperkuat pemanfaatan sumber daya pangan lokal Indonesia melalui inovasi berbasis riset.

Teaching Factory untuk Hilirisasi Riset

Sebagai bagian dari hilirisasi hasil penelitian, Unand mengembangkan mini plant atau teaching factory pangan fungsional. Fasilitas ini menjadi sarana pembelajaran sekaligus pusat pengembangan produk hasil riset.

Dengan adanya fasilitas tersebut, inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat berlanjut menuju proses produksi dan pemanfaatan oleh masyarakat maupun industri.

Prof. Helmizar menambahkan, kolaborasi internasional tidak hanya memperkuat kualitas penelitian, tetapi juga membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Ia berharap inovasi ini dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top