Laba KAI Anjlok 73,9 Persen Jadi Rp305 Miliar, Beban Proyek Kereta Cepat Whoosh Kian Berat

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 13:28:31 WIB
Laba bersih KAI pada semester I-2026 tercatat Rp305 miliar, turun 73,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

SUMATERA BARAT — Kenaikan pendapatan tidak otomatis berbanding lurus dengan laba. Pada enam bulan pertama 2026, KAI mencatat pendapatan Rp17,95 triliun, tumbuh 6,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp16,84 triliun. Sayangnya, beban usaha ikut naik 9,5 persen menjadi Rp2,19 triliun dari sebelumnya Rp2 triliun.

Beban Patungan Whoosh Menggerus Laba

Sumber utama tekanan laba bukan berasal dari operasional kereta api penumpang ataupun barang, melainkan dari pos bagian rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama. Pos ini melonjak drastis menjadi Rp2,99 triliun pada paruh pertama tahun ini, padahal di periode yang sama tahun lalu hanya tercatat Rp948,19 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, lonjakan rugi tersebut dipicu oleh investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia. Nilai pengembalian investasi KAI pada perusahaan patungan itu ambles drastis dari Rp3,24 triliun menjadi Rp235,85 miliar.

PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia merupakan perusahaan patungan yang menjadi pemegang saham PT KCIC, operator kereta cepat Whoosh. Dengan kata lain, kinerja keuangan KAI kini ikut terbebani oleh proyek strategis nasional yang belum mencapai titik impas.

Beban Keuangan dan Selisih Kurs Ikut Menekan

Selain beban patungan, pos beban keuangan juga meningkat 10,4 persen dari Rp1,25 triliun menjadi Rp1,38 triliun. Perseroan juga mencatat lonjakan kerugian akibat selisih kurs yang meningkat lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp235,47 miliar dibandingkan Rp23,31 miliar pada semester I-2025.

Kombinasi beban keuangan dan selisih kurs ini menambah beban yang harus ditanggung perseroan di tengah upaya menjaga kinerja operasional.

Aset dan Liabilitas KAI Masih Solid

Dari sisi neraca, total aset KAI hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp104,79 triliun, sedikit turun dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp105,43 triliun. Liabilitas perseroan juga turun dari Rp66,13 triliun menjadi Rp65,10 triliun.

Adapun ekuitas KAI tercatat sebesar Rp39,69 triliun. Penurunan ekuitas ini seiring dengan berkurangnya aset dan liabilitas yang tercermin dalam laporan posisi keuangan perseroan.

Dengan beban patungan yang masih tinggi, tantangan KAI ke depan adalah menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dari bisnis inti dengan pengelolaan investasi jangka panjang pada proyek infrastruktur strategis. Tekanan pada laba bersih ini menjadi catatan tersendiri bagi kinerja BUMN karya di tengah ekspansi besar-besaran yang dijalankan pemerintah.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: suara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top