Pencarian

Dua Bulan Pascabanjir, Ketangguhan Warga Tanah Datar Terus Menyala

Kamis, 05 Februari 2026 • 12:35:02 WIB
Dua Bulan Pascabanjir, Ketangguhan Warga Tanah Datar Terus Menyala

Tanah Datar, Sumatera Barat – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi, pendidikan, serta kehidupan sosial masyarakat.

Memasuki dua bulan pascabencana, kondisi di ketiga provinsi tersebut perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Warga mulai kembali menjalani kehidupan sehari-hari dan menatap masa depan, meskipun tantangan masih membayangi.

Di Sumatera Barat, semangat bangkit terlihat jelas dari para penyintas yang enggan menyerah pada keadaan. Mereka memilih bergerak dan membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti.

Basri, seorang pengumpul sekaligus pelaku usaha kecil ikan bilih goreng di Desa Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar, menjadi salah satu contoh ketangguhan tersebut. Setelah bencana melanda, ia mulai menata kembali usahanya yang sempat terdampak.

Ia mengisahkan bahwa pada hari-hari awal pascabencana, nelayan di sekitar Danau Singkarak tetap melaut dan menjual hasil tangkapan seperti biasa. Basri pun menerima ikan-ikan tersebut tanpa banyak pertimbangan.

Namun, tak lama kemudian ia menyadari adanya perubahan. Para pelanggan mengeluhkan rasa ikan bilih yang tidak lagi seperti sebelumnya. Basri pun menyimpulkan bahwa banjir bandang dan longsor telah memengaruhi kualitas ikan.

Demi menjaga mutu produk, ia memutuskan menghentikan sementara pembelian ikan hingga kondisi danau serta sungai kembali normal. Keputusan ini justru membawa dampak positif. Beberapa pekan kemudian, pasokan ikan bilih melonjak drastis, dari rata-rata 15 kilogram per hari menjadi sekitar 200 kilogram.

Lonjakan ini turut membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Jika sebelumnya hanya membutuhkan tiga hingga empat orang pekerja, kini Basri mempekerjakan hingga 15 orang setiap hari untuk membersihkan dan mengolah ikan.

Harga beli ikan bilih pun berfluktuasi mengikuti musim dan ketersediaan. Saat stok melimpah, harganya berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, namun dapat melonjak hingga Rp100.000 per kilogram ketika pasokan menipis.

Selain dipasarkan di wilayah Sumatera Barat, terutama sekitar Danau Singkarak dan Payakumbuh, ikan bilih olahan Basri juga dikirim ke Depok, Jawa Barat, serta Dumai, Riau. Dari usaha ini, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya sekaligus membantu menggerakkan perekonomian lokal.

Semangat serupa ditunjukkan Bustami, petani manggis asal Nagari Malalo. Pemuda Minangkabau ini memilih tidak larut dalam kesedihan atau sekadar menunggu bantuan, meskipun akses menuju kebunnya terputus akibat banjir bandang.

Ia menjelaskan bahwa banjir telah merusak bendungan Sabo dan jalan utama menuju area perkebunan. Kini, ia harus berjalan sejauh dua kilometer melewati sungai kering berbatu, tumpukan kayu, serta jalur terjal dan licin.

Setelah panen, Bustami memanggul dua keranjang manggis dengan berat total sekitar 40 kilogram, menempuh jarak yang sama untuk kembali pulang. Pada awal bencana, ia bahkan memilih tidak memanen karena khawatir akan banjir susulan, sehingga banyak buah membusuk atau dimakan monyet.

“Sebelum bencana, hasil panen bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram. Sekarang rata-rata hanya sekitar 100 kilogram,” ujarnya. Ia menjual manggis seharga Rp27.000 per kilogram dan menambah penghasilan dengan bertani padi serta bekerja sebagai buruh lepas.

Agenda Pariwisata

Untuk memulihkan ekonomi daerah, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menyiapkan berbagai agenda pariwisata. Kepala daerah Eka Putra menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat.

Sebagai kawasan wisata yang dikenal hingga mancanegara, Tanah Datar akan menggelar berbagai acara budaya, termasuk tradisi Pacu Jawi yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu. Atraksi ini menampilkan para joki yang berpacu mengendalikan sepasang banteng di lintasan sawah berlumpur.

Menjelang Ramadan, pemerintah daerah juga akan menggelar pacuan kuda pada 8–9 Februari 2026 di Kecamatan Lima Kaum. Selain itu, agenda menjaring ikan bilih di Danau Singkarak turut disiapkan sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.

Eka Putra optimistis, kegiatan pariwisata ini akan mempercepat pemulihan ekonomi dan mobilitas masyarakat pascabencana. “Kita harus bangkit dari bencana ini,” tegasnya.

Meski banjir dan longsor telah membawa duka mendalam—merenggut nyawa, rumah, dan sumber penghidupan—dua bulan berselang, masyarakat perlahan bangkit. Dengan keteguhan hati, mereka memilih melangkah maju, menjaga harapan, dan memperkuat ketahanan di tengah keterbatasan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks