PASAMAN BARAT — Opsi pemulihan atau penggantian ikon baru akan dibahas dalam forum yang melibatkan lintas elemen masyarakat. Bupati Pasaman Barat H. Yulianto menyebut musyawarah ini menjadi langkah awal Pemkab setelah patung di kawasan Simpang IV rusak akibat sambaran petir saat hujan deras.
Musyawarah Tentukan Nasib Ikon Bundaran Simpang IV
Bupati Yulianto mengatakan, pihaknya tidak akan memutuskan nasib patung tersebut secara sepihak. Dalam musyawarah nanti, pemerintah akan mendengar aspirasi dari ninik mamak, alim ulama, Bundo Kanduang, insan media, hingga generasi muda.
“Patung Bundo Kanduang bukan sekadar patung. Itu simbol marwah, filosofi, dan identitas orang Minang di Pasaman Barat. Karena itu keputusannya tidak bisa diambil sepihak, tetapi harus melalui musyawarah bersama,” ujar Yulianto, Selasa (16/6/2026).
Dua Opsi: Dipulihkan atau Diganti Ikon Baru
Pembahasan akan menyasar beberapa poin krusial. Pertama, relevansi Patung Bundo Kanduang sebagai ikon kawasan Simpang IV. Kedua, kondisi teknis kerusakan dan biaya perbaikan atau pembangunan ulang. Ketiga, upaya antisipasi risiko sambaran petir di masa mendatang.
Tim teknis dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kawasan Permukiman (DLHK) serta instansi terkait akan mempresentasikan hasil kajian mengenai tingkat kerusakan dan kondisi struktur patung. Data ini menjadi bahan pertimbangan sebelum keputusan final diambil.
Bukan Sekadar Estetika, Ada Marwah Budaya
Bupati menegaskan, keputusan yang diambil nantinya harus mencerminkan jati diri Pasaman Barat dan mendapat persetujuan dari berbagai unsur masyarakat. Pemerintah daerah juga akan menampung masukan dari tokoh adat, tokoh budaya, serta warga sekitar Simpang IV.
Selain merusak patung, sambaran petir pada Minggu sore itu juga menyebabkan lampu lalu lintas di kawasan bundaran sempat mengalami gangguan. Hingga berita ini diturunkan, musyawarah masih dalam tahap persiapan teknis.