PADANG — Nama Abil Kuba kini akrab di telinga warga Tunggul Hitam, Kota Padang. Bukan semata karena statusnya sebagai prajurit TNI AD, melainkan karena aksi nyatanya menggandeng masyarakat membangun infrastruktur jalan di lingkungan mereka. Tiga ruas jalan utama—Jalan Jeep, Gang Willis, dan Jalan Baiyo—berhasil diperbaiki melalui semangat gotong royong.
Asal-usul Nama Jalan Jeep yang Unik
Penamaan Jalan Jeep ternyata bukan tanpa cerita. Nama itu diambil dari kendaraan Jeep Willis milik Abil Kuba yang kala itu menjadi satu-satunya kendaraan yang mampu melintasi kawasan tersebut saat banjir melanda. Kenangan itulah yang kemudian diabadikan sebagai nama jalan.
Kini, ruas-ruas jalan tersebut memberikan kemudahan akses bagi warga sehari-hari. Inisiatif ini dinilai menjadi contoh kolaborasi antara kepedulian sosial seorang prajurit dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun lingkungannya sendiri.
Kiprah di Banjarmasin: Properti hingga Keselamatan Kerja
Di luar tugas di Sumatera Barat, Abil Kuba juga aktif saat bertugas di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia turut berkontribusi dalam pengembangan sektor properti dan mendukung operasional perusahaan. Kegiatannya mencakup pengembangan kawasan perumahan hingga meninjau langsung aktivitas pertambangan dengan menekankan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Tak hanya urusan bisnis, ia juga tercatat aktif menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan di sana. Aktivitas ini menunjukkan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berhenti pada tugas negara, tetapi merambah ke aksi sosial di mana pun ia ditempatkan.
Villa Baiyo 28 dan Kecintaan pada Kendaraan Klasik
Di sela-sela kesibukannya, Abil Kuba dikenal sebagai pencinta kendaraan klasik. Ia memiliki rumah peristirahatan bernama Villa Baiyo 28 yang terletak di kawasan Tunggul Hitam, Kota Padang. Tempat ini menjadi salah satu penanda jejaknya di kampung halaman.
Konsistensi Abil Kuba dalam menggabungkan peran sebagai prajurit, pelaku sosial, dan kontributor pembangunan daerah menjadikannya figur yang aktif di tengah masyarakat. Ia membuktikan bahwa semangat gotong royong bisa diperkuat dari mana saja, baik di Sumatera Barat maupun Kalimantan Selatan, demi pembangunan daerah dan nasional.