BATUSANGKAR — Ratusan pengunjung memadati pelataran Istano Basa Pagaruyung pada Rabu untuk menyaksikan pameran foto bertajuk "Bencana Sumatra". Kegiatan ini digelar oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama Yayasan Mata Waktu dan PLN sebagai bagian dari rangkaian "roadshow" karya fotografi jurnalistik di tiga provinsi yang dilanda bencana akhir tahun lalu.
Bukan Sekadar Dokumentasi Bencana
Koordinator Wilayah PFI Region Sumatra, Hendra Syamhari, mengatakan seluruh foto yang dipajang merupakan hasil bidikan pewarta foto Indonesia yang turun langsung ke lapangan. "Foto yang dipamerkan hari ini adalah karya dari pewarta foto Indonesia yang turun langsung untuk memotret bencana alam di Sumatra," ujarnya di Batusangkar.
Menurut Hendra, puluhan karya itu tidak hanya merekam dahsyatnya bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. "Lewat visual kami juga ingin menggugah kesadaran bersama bahwa menjaga dan merawat alam sangat penting sehingga bisa tetap dinikmati oleh anak cucu nanti," jelasnya.
Pameran Perdana di Ikon Budaya Minangkabau
Pemilihan Istano Basa Pagaruyung sebagai lokasi pameran dinilai sebagai langkah baru dalam pemanfaatan kawasan budaya. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, yang turut hadir menyaksikan pameran, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif tersebut.
"Belum ada yang melakukan pameran foto di Istano Basa Pagaruyung sebelumnya, ini ide yang bagus dalam menghadirkan ruang ekspresi bagi publik," kata Eka Putra. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi tonggak baru sekaligus pengingat akan pentingnya mitigasi bencana.
Buku Foto "Prahara Pulau Emas" Juga Diluncurkan
Bersamaan dengan pameran, panitia juga meluncurkan buku foto berjudul "Prahara Pulau Emas". Buku tersebut menjadi pelengkap narasi visual yang disajikan di ruang pamer. Pameran ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah digelar di provinsi lain yang terdampak bencana.
Bupati Eka Putra berharap masyarakat dari tiga provinsi yang pernah terdampak dapat memanfaatkan pameran sebagai sarana refleksi. Baginya, setiap foto yang dipamerkan bukan sekadar dokumentasi, melainkan pengingat agar masyarakat tidak lengah terhadap ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.